Kamis, 13 Maret 2014

merindukanmu by reza


KATA KATA KESEHATAN

*Apel jg mengandung serat yg berguna mengikat lemak untuk selanjutnya dibuang. Baik untuk yg sedang berdiet ;)

*Alpukat mengandung lemak yg cukup tinggi. Namun jgn takut krn lemak alpukat mirip dgn lemak pd minyak zaitun yg sangat menyehatkan tubuh.

*Kandungan tryptophan & serotonin pd nanas dpt merelaksasi otak, mengurangi depresi, serta meningkatkan mood dan konsentrasi

*Krg tidur memicu hormon stress/kortisol yg m'perlambat produksi kolagen,shg menyebabkan keriput

*Tak hanya perawatan, malam hari kulit sgt butuh istirahat. Tidur 8 jam setiap malam sgt menunjang kecantikan melalui regenerasi sel kulit

*Matikan lampu, jika tidur dalam keadaan yg gelap tubuh menghasilkan hormon "melantonin", yang mampu memerangi berbagai penyakit.

*Jangan makan berlebihan sebelum tidur, karena tubuh akan terus bekerja untuk melakukan proses pencernaan.

*Untuk mendapatkan tidur yg nyenyak, kamu bisa mandi dgn air hangat 1 jam sebelum tidur krn air hangat dapat memberikan efek relaksasi.

*usahakan selalu untuk mendapat tidur yg cukup dan berkualitas shga kesehatan tubuh & kecantikkan kulitmu terjaga.

*Sel kulit mati yg menumpuk dpt menjadikan kulit terlihat kusam, terlihat tidak cerah. Belum lagi kl timbul flek-flek hitam.

*Cukupi kebutuhan minum. Dengan cukup minum air, metabolisme tubuh tetap terpelihara baik, sehingga mempermudah pembakaran lemak.

*Selalu sarapan pagi. Sarapan pagi memperlancar metabolisme tubuh, oatmeal, roti gandum / produk gandum lainnya dpt menjadi pilihan tepat.

*Memiliki hobi. Dengan sering melakukan aktifitas yg disukai, tubuh akan lebih sering bergerak dan kalori pun ikut terbakar.

*Makan dengan porsi yg lebih sedikit namun lebih sering, sktr 5 - 6 kali sehari. Perut akan tetap kenyang & terhindar dr keinginan nyemil.

*Banyak mengkonsumsi serat. Serat sgt baik utk memperlancar sistem pencernaan, serta mengandung byk vitamin & mineral yg dibutuhkan tubuh.

*Jangan berusaha mengangkat komedo dgn memencetnya, krn akan membuat produksi minyak makin meningkat & pori-pori kulit wajah membesar.

*Rajinlah merapikan rambut dgn memotong ujung rambut yg bercabang, agar nutrisi terfokus utk membuat rambut sehat dan panjang ;)

*Minimalkan penggunaan alat-alat yang panas, seperti blow dryers, pengikal rambut, catokan. Rambut bs jd kering dan kusam.

*Tengkurap. Dianggap sebagai posisi tidur yang paling buruk, karena dapat memicu masalah sakit leher.

*Sikat gigi minimal 2 kali sehari. Khususnya stlh makan dan sblm tidur di malam hari, utk menghindari berkembangnya bakteri di mulut

*Mengkonsumsi sayuran hijau dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, krn banyak minreal yg dikandungnya & tentu baik untuk dietmu.


  •  

Selasa, 11 Maret 2014

jurnal skripsi

PERBANDINGAN METODE LATIHAN PIRAMID NORMAL DAN PIRAMID TERBALIK TERHADAP PENINGKATAN HIPERTROFI OTOT
Oleh:
* Sandra Arhesa
Abstrak
Dalam latihan beban ada beberapa macam metode latihan untuk meningkatkan hipertrofi otot. Metode yang lebih baik untuk peningkatan hipertrofi otot digunakan Sistem Piramid Normal dan Piramid Terbalik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan perbedaan efektivitas antara metode latihan piramid normal dan piramid terbalik terhadap peningkatan hipertrofi otot.nPengambilan data dilakukan pada bulan juli sampai bulan agustus 2012 di Fitness Center Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang (FCBPBS). Penelitian ini menggunakan metode penelitian exsperimen dengan populasi member putra FCBPBS berjumlah 50 orang, member pasif 30 orang dan member aktif 20 orang. Sampel yang diambil member aktif 20 orang, 10 orang menggunakan metode latihan piramid normal dan 10 orang menggunakan metode latihan piramid terbalik. Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh terhadap peningkatan hipertrofi otot yang menggunakan metode latihan piramid normal dan pyramid terbalik serta terdapat perbedaan yang signifikan antara metode latihan piramid normal dan terbalik terhadap peningkatan hipertrofi otot terutama otot lengan dan otot paha, dengan peningkatan hipertrofi otot yang lebih baik menggunakan metode latihan piramid normal. Diharapkan kedepannya dilakukan penelitian untuk peningkatan hipertrofi dengan metode latihan piramid normal dan piramid terbalik terhadap jenis otot yang lain serta penelitiannya lebih dari satu bulan dengan sample yang lebih banyak.
Pendahuluan
Binaraga adalah kegiatan pembentukan tubuh yang melibatkan hipertrofi  otot. Dengan melakukan latihan beban dan diet protein tinggi secara rutin, seseorang dapat meningkatkan massa otot. Seseorang yang menekuni aktivitas ini disebut binaragawan (pria) atau binaragawati (wanita). Selain menjadi gaya hidup untuk membentuk tubuh sekaligus menjaga kesehatan, binaraga juga dapat diperlombakan dalam berbagai kontes atau sebagai salah satu cabang olahraga yang kerap diperlombakan di pesta olahraga seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) atau Sea Games.
Dalam kejuaraan binaraga, para binaragawan memamerkan otot tubuh mereka di hadapan dewan juri yang menilai penampilan fisik mereka. Dewan juri ini akan memberikan nilai berdasarkan kriteria tertentu, seperti: massa otot, simetri tubuh, bagian otot, serta penampilan yang mencakup koreografi, musik, dan tema. Otot tubuh ditonjolkan melalui serangkaian proses yang disebut cutting phase, serangkaian kombinasi dari pengurangan kadar lemak tubuh, penggelapan warna kulit (dilakukan dengan berjemur di bawah sinar matahari), pembaluran minyak pada tubuh, ditambah efek penyinaran panggung yang akan membantu dewan juri untuk melihat bagian otot secara lebih jelas.
Federasi binaraga dunia adalah International Federation of Body Building & Fitness (IFBB), sedangkan Federasi binaraga nasional Indonesia adalah Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI). Binaragawan umumnya menempuh tiga strategi untuk memaksimalkan hypertrophy otot yaitu dengan latihan beban, nutrisi, dan istirahat yang cukup (http://www.flexonline.com/2009_mr_olympia_final_results/news/958).
Latihan beban merupakan salah satu macam latihan tahanan secara isotonis, yang paling sering digunakan dalam olahraga. Latihan beban adalah latihan-latihan yang sistematis dimana beban hanya dipakai sebagai alat untuk menambah kekuatan otot guna mencapai berbagai tujuan tertentu, misalnya memperbaiki kondisi fisik sedangkan tujuan latihan tahanan secara umum menurut ACSM (The American College of Sport and Medicine) meliputi kekuatan otot, daya tahan otot, hypertrophy otot, dan power otot.
Latihan beban bertujuan membangun jaringan otot dengan memicu dua jenis hipertrofi; hipertrofi sarkoplasmik dan hipertrofi miofibrilar. Hipertrofi sarkoplasmik menciptakan otot yang lebih besar sehingga menjadi tujuan latihan binaraga daripada hipertrofi miofibrilar yang lebih bersifat kekuatan dan kelenturan. Sarkoplasmik dipicu dengan meningkatkan repetisi (pengulangan), sementara miofibrilar dipicu dengan mengangkat beban yang lebih berat. Keduanya secara bersama dapat meningkatkan ukuran dan kekuatan otot (dibandingkan dengan orang yang tidak latihan beban sama sekali), namun norma yang berbeda.
Banyak pelatih memilih untuk secara silih berganti menggunakan dua metode ini. Hal ini dimaksudkan agar tubuh beradaptasi (dengan mempertahankan beban lebih yang progresif), mungkin dengan menekankan metode sesuai kebutuhan mereka, misalnya seorang binaragawan yang terbiasa latihan dengan metode hipertrofi sarkoplasmik yaitu meningkatkan repetisi (pengulangan) dapat suatu waktu beralih ke hipertrofi miofibliar yaitu mengangkat beban yang lebih berat agar dapat melampaui batas plateau yakni suatu titik dimana latihannya sudah membentur batas.
Sebelum perang dunia II boleh dikatakan hampir semua pelatih olahraga menentang dimasukkannya latihan beban dalam program latihan atlet. Mereka beranggapan bahwa latihan beban membahayakan dan akan menyebabkan atlet menjadi apa yang disebut sebagai muscle bound, suatu kondisi dimana atlet akan menjadi kaku dan lamban. Otot yang berada dalam kondisi muscle bound adalah otot yang meskipun besar dan kuat, tetapi kaku dan lamban.
Kini pendapat demikian sudah banyak ditinggalkan sehingga semua pelatih yang baik memasukkan latihan beban kedalam program latihan atlet. Sementara latihan tahanan otot menurut ACSM  (The American College of Sport and Medicine) adalah salah satu metode untuk meningkatkan kebugaran otot.  Dalam latihan beban ada beberapa macam metode latihan kekuatan yang dijelaskan oleh Harsono (1988:196), diantaranya set sistem, sistem super set, split routines, burn out, metode multi-poundage dan sistem piramid.
Dalam penelitian ini peneliti bermaksud mengadopsi sistem latihan piramid yang biasanya selalu digunakan dalam latihan kekuatan atau weight training. “Pelaksanaan sistem piramid dimulai dari beban yang ringan, kemudian pada set berikutnya makin lama makin berat beban latihannya.” (Harsono, 1988:198).
Dalam beberapa metode latihan peneliti tertarik untuk mengkaji metode latihan lainnya yang berbeda yaitu latihan dengan sistem piramid terbalik yang merupakan kebalikan dari sistem piramid normal. Keduanya bertujuan untuk membangun jaringan otot dengan memicu dua jenis hipertrofi sarkoplasmik dan hipertrofi miofibrilar. Sistem piramid normal termasuk kedalam jenis hipertrofi miofibrilar yang dipicu dengan mengangkat beban yang lebih berat sedangkan Sistem piramid terbalik termasuk ke jenis hipertrofi sarkoplasmik yang dipicu dengan meningkatkan repetisi.
Oleh karena itu peneliti ingin mengkaji lebih dalam untuk melihat perbandingan efektivitas metode latihan piramid normal dan piramid terbalik terhadap peningkatan hipertrofi otot.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Eksperimen. Penelitian eksperimen dilakukan di laboratorium sedangkan naturalistik/kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah. Dalam penelitian eksperimen ada perlakuan (treatment), dengan demikian metode eksperimen diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2009:72).
Penelitian ini dilaksanakan di Fitness Center Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang Cimbuleuit Bandung (FCBPBS). Populasi penelitian ini adalah member putra Fitness Center Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang 50 orang, member yang pasif 30 orang dan member aktif 20 orang sedangkan sample yang peneliti gunakan adalah member aktif sejumlah 20 orang, 10 orang sebagai sample pada kelompok sistem piramid normal dan 10 orang pada kelompok sistem piramid terbalik. Dalam Teknik pengambilan sampel  menggunakan teknik purvosive sampling. Teknik purposive sampling menurut Surakhmad (1989:100) bahwa: “Teknik purposive sampling adalah dengan sengaja menarik sample (non random) karena alasan-alasan diketahunya sifat-sifat sample itu”. Sifat-sifat yang penulis tentukan dalam penelitian ini adalah kesamaan sifat karakteristik sample yang akan mempermudah dalam pembuatan program latihan yang akan dilakukan.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan alat ukur seperti meteran, untuk melihat perubahan lingkar otot sebelum dan sesudah penelitian, yang dilakukan pada otot lengan dengan menggunakan latihan standing dumbell curls dan otot paha menggunakan latihan leg extension, agar bisa membedakan peningkatan hipertrofi otot dengan menggunakan sistem piramid normal dan sistem piramid terbalik.
Rancangan penelitian yang digunakan pre-experimental design yang jenis nya pretest-posttest design, karena penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Dasar penggunaan rancangan ini adalah kegiatan percobaan yang diawali dengan memberikan perlakuan kepada subjek yang diakhiri dengan suatu bentuk tes guna mengetahui pengaruh perlakuan yang telah diberikan. Teknik Analisis Data dengan menguji normalitas, uji homogenitas dan uji perbedaan.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Adapun pengujian yang akan dilakukan menggunakan program komputer SPSS 17 yaitu menggunakan  Kolmogorov-Simirnov test yang bertujuan untuk menguji normalitas data dan Compare Means Paired Sample T test untuk menguji perbedaan yang dilakukan terhadap dua sample yang berpasangan (paired); sample yang berpasangan diartikan sebagai sebuah sampel dengan subjek yang sama namun mengalami dua perlakuan atau pengukuran yang berbeda (Singgih Santosa: 2009).
Tabel 1. Rata-rata dan Simpangan baku pada bagian lengan
Sistem Latihan Piramid Normal
Tes Awal (cm)
Tes Akhir (cm)
Selisih (cm)
Persen (%)
L Ka
L Ki
L Ka
L Ki
L Ka
L Ki
L Ka
L Ki
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
X
30,5
32
30,1
31,5
31,3
32,8
30,9
32,3
0,8
0,8
0,8
0,8
2,6
2,5
2,6
2,5
S
3,4
3,2
3,5
3,5
3,4
3,2
3,5
3,5
0,2
0,2
0,2
0,2
5,9
6,2
5,7
5,7
Sistem Latihan Piramid Terbalik
Tes Awal (cm)
Tes Akhir (cm)
Selisih (cm)
Persen (%)
L Ka
L Ki
L Ka
L Ki
L Ka
L Ki
L Ka
L Ki
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
X
32,6
34,5
32,5
34,3
33,3
35,2
33,1
34,9
0,7
0,7
0,6
0,6
2,1
2
1,8
1,7
S
2
1,9
2,1
1,8
1,9
1,9
2,1
1,8
0,2
0,2
0,2
0,1
10
10,5
9,5
5,5
Tabel.2 Uji beda antara sistem piramid normal dan terbalik pada lengan
Kelompok
Mean
df
T hitung
T tabel
Sig.
(2-tailed)
Ket
Selisih SLPN L Ka R – SLPT L Ka R
0,2 cm
9
2,553
1,833
,031
Signifikan
Selisih SLPN L Ka K – SLPT L Ka K
0,2 cm
9
2,973
1,833
,016
Signifikan
Selisih SLPN L Ki R – SLPT L Ki R
0,2 cm
9
2,553
1,833
,031
Signifikan
Selisih SLPN L Ki K – SLPT L Ki K
0,2 cm
9
3,273
1,833
,010
Signifikan
Berdasarkan selisih pada lengan kanan dan kiri antara sistem latihan pramid normal dan terbalik t hitung > t tabel dan nilai probabilitas < 0,025 , maka Ho ditolak. Jadi, terdapat perbedaan yang signifikan antara metode latihan piramid normal dan terbalik terhadap peningkatan  hipertrofi otot lengan. Dengan perbedaan Lengan Kanan saat Relaksasi, Lengan Kanan saat Kontraksi dan Lengan Kiri saat Relaksasi adalah 0,2 cm, Lengan  Kiri saat Kontraksi adalah 0,2 cm.

Tabel. 3 Rata-rata dan simpangan baku pada bagian paha
Sistem Latihan Piramid Normal
Tes Awal (cm)
Tes Akhir (cm)
Selisih (cm)
Persen (%)
P Ka
P Ki
P Ka
P Ki
P Ka
P Ki
P Ka
P Ki
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
X
54,7
55,1
54,7
55,1
55,5
56
55,5
56
0,8
0,9
0,8
0,9
1,5
1,6
1,5
1,6
S
6
6
6
6
6
6
6
6
0,2
0,2
0,2
0,2
3,3
3,3
3,3
3,3
Sistem Latihan Piramid Terbalik
Tes Awal (cm)
Tes Akhir (cm)
Selisih (cm)
Persen (%)
P Ka
P Ki
P Ka
P Ki
P Ka
P Ki
P Ka
P Ki
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
R
K
X
54,5
55
54,4
54,9
55,1
55,6
55
55,5
0,6
0,6
0,6
0,6
1,1
1,1
1,1
1,1
S
4
4
3,8
3,8
4
4
3,8
3,8
0,2
0,1
0,2
0,1
5
2,5
5,2
2,6
Tabel.4 Uji beda antara sistem piramid normal dan terbalik pada paha
Kelompok
Mean
df
T hitung
T tabel
Sig.
(2-tailed)
Ket
Selisih SLPN P Ka R – SLPT P Ka R
0,2 cm
9
2,739
1,833
,023
Signifikan
Selisih SLPN P Ka K – SLPT P Ka K
0,3 cm
9
4,302
1,833
,002
Signifikan
Selisih SLPN P Ki R – SLPT P Ki R
0,2 cm
9
2,739
1,833
,023
Signifikan
Selisih SLPN P Ki K – SLPT P Ki K
0,3 cm
9
4,302
1,833
,002
Signifikan
Kelompok metode latihan piramid normal dan terbalik pada bagian paha saat relaksasi  t hitung adalah 2,739, saat kontraksi 4,302, dan t tabel 1,833, dan nilai probabilitas 0,023/2 = 0,0115, 0,002/2 = 0,001 karena t hitung > t tabel serta nilai probabilitas < 0,025 maka Ho ditolak dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara metode latihan piramid normal dan terbalik terhadap peningkatan hipertrofi otot paha. Dengan perbedaan Paha Kanan saat Relaksasi 0,2 cm, Paha Kanan saat Kontraksi 0,3 cm dan Paha Kiri saat Relaksasi 0,2 cm, Paha Kiri saat Kontraksi 0,3 cm.
            Penelitian yang menggunakan metode latihan piramid normal memberikan pengaruh yang lebih signifikan terhadap peningkatan hipertrofi otot lengan dan paha karena latihan piramid normal ini diawali dengan beban yang ringan menuju beban yang berat sehingga akan menguntungkan otot cepat beradaptasi  dan otot-otot akan bekerja maksimal sehingga terdapat kemajuan dari sisi peningkatan menuju perubahan pada intensitas. Metode latihan piramid terbalik juga memberikan pengaruh terhadap peningkatan hipertrofi otot lengan dan paha tetapi tidak sebanding pengaruhnya dengan metode latihan piramid normal, metode latihan piramid terbalik ini membutuhkan adaptasi beban yang maksimal untuk mengawali latihan pembebanan karena otot-otot dituntut untuk memberikan kualitas kerja yang maksimal sehingga otot akan merasakan kelelahan untuk melakukan set berikutnya.
Kesimpulan
Kesimpulan dibuat berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data tentang perbandingan metode latihan piramid normal dan piramid terbalik terhadap penigkatan hipertrofi otot. Maka dari itu penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan dibawah ini:
1.      Terdapat pengaruh dari metode latihan piramid normal terhadap peningkatan hipertrofi otot lengan dan otot paha
2.      Terdapat pengaruh dari metode latihan piramid terbalik terhadap peningkatan hipertrofi otot lengan dan otot paha.
3.      Metode latihan piramid normal memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap peningkatan hipertrofi otot lengan dan otot paha dibandingkan dengan metode latihan piramid terbalik.
Saran
Berdasarkan proses dan hasil kajian mengenai perbandingan metode latihan piramid normal dan piramid terbalik terhadap peningkatan hipertrofi otot terutama otot lengan dan otot paha. Maka saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut:
1.      Lakukan latihan beban (weight training) dengan metode latihan yang benar dan efektif sesuai dengan tujuan yang diinginkan
2.      Ada baiknya untuk para instruktur atau pelatih serta atlet dalam menyusun program latihan hipertrofi otot digunakan metode latihan piramid normal atau piramid terbalik terutama untuk melatih dan meningkatkan hipertrofi otot lengan dan paha, dari kedua sistem itu yang lebih cepat peningkatannya yaitu sistem latihan piramid normal.
3.      Diharapkan kedepannya dilakukan penelitian untuk peningkatan hipertrofi dengan metode latihan piramid normal dan terbalik terhadap jenis otot yang lainnya selain otot lengan dan paha serta penelitiannyan lebih dari satu bulan dengan sample yang lebih banyak.
4.      Dalam latihan beban peningkatan otot akan lebih cepat, jika latihan nya teratur, istirahat yang cukup dan ditunjang dengan nutrisi yang baik.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Dwyer, & Davis. (2005).  (ACSM) The American College of Sport and Medicine Health Related Physical Fitness Manual. Pennsylvania: Lippincott Williams & Wilkins.
Giriwijoyo, Santosa. dkk. (2007). Ilmu Kesehatan Olahraga Sport Medicine Untuk Kesehatan dan untuk Prestasi Olahraga. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Giriwijoyo, Santosa. (2007). Ilmu Faal Olahraga Fungsi Tubuh Manusia pada Olahraga. Bandung: Universitas Pendidikan Indinesia.
Harsono. (1988). Coaching dan Aspek-Aspek Psikologi dalam Coaching. Jakarta: CV. Tambak Kusuma.
Hasan, Iqbal. (2002). Pokok-pokok materi metodologi penelitian dan aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Imanudin, Iman. (2008). Ilmu Kepelatihan Olahraga. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Komarudin. (2007). Penerapan metode latihan beban dan latihan elastic tubing dalam meningkatkan prestasi memanah jarak 30 meter. Banda Aceh: Pusat Kajian Ilmu Olahraga Universitas Syiah Kuala.
Lutan, Rusli. dkk. (1992). Manusia dan Olahraga. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Lutan, Rusli. (2001). Pengembangan Sistem Pembelajaran Model Mata Kuliah Penelitian Pendidikan Olahraga. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Mc Ardle, & Katch. (2007). Skeletal Muscle: Structure and Function. Exercise Physiology.
Rai, Ade. (2011). 101 Binaraga Natural 101 Strategi Binaraga Sehat Tanpa Obat. Jakarta: Libri.
Santosa, Singgih. (2009). Panduan Lengkap Menguasai Statistika dengan SPSS 17. Jakarta: Kompas Gramedia.
Skripsi Sarjana Pada FPOK UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.
Staf Pengajar K K Ilmu-Ilmu Kemanusiaan. (2009). Tata Tulis Karya Ilmiah. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Sudjana. (2002). Metode Statistika. Bandung: Tarsito
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&B.Bandung: Alfabeta.
Tim Penyusun Kamus. (1989). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Tim Penyusun UPI. (2011). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Yusup, Ucup. dkk. (2008). Anatomi Manusia. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.